• Home
  • Jadwal Balapan
  • Mengapa Para Pembalap F1 Frustrasi dengan Penalti Oscar Piastri di GP Brasil — dan Apa Artinya bagi Pedoman Balapan

Penalti 10 detik yang diterima Piastri pada Grand Prix Brasil terus menjadi sorotan di paddock Formula 1. Meskipun hasil balapan sudah resmi, dampak dari insiden tersebut — yang juga menyebabkan Charles Leclerc (Ferrari) tersingkir — tetap menjadi salah satu topik paling hangat menjelang seri-seri berikutnya di musim F1 2025.

Bagi sebagian besar pembalap, kontroversi ini bukan hanya tentang hasil balapan atau dampaknya terhadap klasemen. Sebaliknya, isu ini membuka kembali pertanyaan lebih besar mengenai bagaimana aturan overtaking ditulis, ditafsirkan, dan ditegakkan. Banyak yang menilai bahwa penalti Piastri menunjukkan masalah yang lebih luas: pedoman mengemudi F1 terlalu kaku, terlalu terformula, dan tidak mampu menangkap dinamika balapan sebenarnya.


Penalti yang Memicu Perdebatan Lebih Besar

Manuver Piastri di Interlagos menyebabkan kontak yang membuat Leclerc tersingkir dan membuat Piastri kehilangan peluang podium. Steward memberikan penalti 10 detik, menjatuhkannya ke posisi kelima, sementara Andrea Kimi Antonelli — yang coba ia lewati — finis kedua di depan Max Verstappen.

Dampaknya terhadap klasemen sangat nyata:
• Lando Norris memperbesar jarak poin
• Piastri kehilangan posisi terhadap rekan setimnya
• Verstappen memperpendek jarak

Tetapi bagi para pembalap di grid, masalahnya bukan pada perebutan gelar. Mereka mempertanyakan apakah aturan yang ada benar-benar mencerminkan realitas duel roda-ke-roda dalam Formula 1.


Antonelli: “Kalau mengikuti pedoman, Oscar salah”

Antonelli membela keputusan steward dengan merujuk langsung pada aturan overtaking FIA.

Menurut pedoman terbaru, pembalap yang menyerang harus memiliki poros depan “setidaknya sejajar dengan kaca spion mobil lawan sebelum dan pada apex” untuk berhak mendapatkan ruang balapan. Selain itu, mobil yang menyalip harus “sepenuhnya terkendali dan tidak melakukan dive bomb”.

Dua kriteria inilah yang dianggap gagal dipenuhi Piastri. Ia sempat sejajar di straight, tetapi tidak pada apex. Ia mengerem untuk menghindari kontak, namun mengalami lock-up — yang ditafsirkan sebagai kehilangan kontrol.

Antonelli bahkan menyebut penalti serupa yang pernah ia terima di Zandvoort, menegaskan pola yang semakin banyak dikeluhkan: pembalap merasa pedoman diterapkan secara tidak konsisten dan tidak mencerminkan kompleksitas balapan.


Sainz: “Tidak dapat diterima untuk kategori sekelas Formula 1”

Carlos Sainz menjadi salah satu pengkritik paling vokal, menyebut penalti tersebut “tidak dapat diterima”.

Ia menyebut sejumlah insiden sebelumnya — di Zandvoort, Austin, dan Monza — di mana ia merasa penalti yang diberikan tidak tepat. Keputusan di Brasil, menurutnya, adalah contoh terbaru dari sistem yang bermasalah.

“Semua orang yang pernah balapan tahu bahwa ini bukan kesalahan Oscar,” kata Sainz. “Dia tidak bisa melakukan apa pun untuk menghindarinya.”

Menurut Sainz, menerapkan aturan secara kaku tanpa mempertimbangkan faktor seperti sudut masuk tikungan, stabilitas pengereman, kondisi lintasan, atau visibilitas membuat stewarding kehilangan aspek manusiawi.


Fisika vs. Buku Aturan — Di Sini Pedoman Tidak Relevan

Banyak pembalap menyoroti bahwa kehilangan overlap saat pengereman adalah hal normal — terutama:

• saat menyerang dari sisi dalam
• saat kondisi basah atau grip rendah
• pada tikungan dengan radius lebih tajam

Fisika memaksa mobil sisi dalam mengerem lebih awal. Itu sering menyebabkan overlap hilang, bahkan jika manuver awal sah.

Piastri “tidak bisa menghilang begitu saja”, kata beberapa pembalap dan bos tim. Antonelli sendiri mengakui bahwa visibilitas menjadi faktor — ia tidak melihat McLaren setelah fase pengereman dimulai.

Inilah masalah yang pembalap nilai dari pedoman FIA: aturan mengharuskan overlap presisi di apex, sementara balapan nyata jarang sekali menawarkan situasi textbook seperti itu.


Russell: “Pedoman harus tetap menjadi pedoman”

Ketua GPDA George Russell memberi sudut pandang yang lebih moderat. Ia mengatakan steward selalu berusaha semaksimal mungkin, tetapi pedoman harus cukup fleksibel untuk menilai setiap tikungan, setiap sirkuit, dan setiap insiden secara individual.

Ia juga menyoroti Tikungan 1 Interlagos: permukaan yang miring membuat ban sisi dalam mudah terangkat dan mengalami lock-up, meski mobil masih terkendali — bertentangan dengan asumsi pedoman FIA.

Russell pun kembali menegaskan permintaan lama pembalap: panel steward yang lebih konsisten. Panel yang stabil akan memastikan interpretasi aturan lebih seragam sepanjang musim.


Pertemuan Menjelang GP Qatar

Karena meningkatnya frustrasi, para pembalap akan kembali bertemu FIA sebelum GP Qatar untuk membahas revisi pedoman. Mereka menginginkan:

• pedoman yang lebih jelas dan tidak terlalu preskriptif
• fleksibilitas lebih besar untuk situasi balapan
• konsistensi antar-panel steward
• pengakuan terhadap faktor visibilitas dan dinamika pengereman
• pendekatan yang mengutamakan balapan, bukan interpretasi literal aturan

Masih belum jelas apakah FIA akan merevisi pedoman tersebut, tetapi tekanan kini jauh lebih kuat dibanding sebelumnya.


Dampaknya bagi Perebutan Gelar — dan Bagi Prediksi Balapan

Dengan perebutan gelar antara Norris, Piastri, dan Verstappen semakin ketat, satu penalti saja dapat mengubah momentum secara drastis. Insiden seperti di Brasil menunjukkan betapa tipisnya margin — dan mengapa memahami perilaku pembalap, pola overtaking, serta cara steward menerapkan aturan menjadi semakin penting bagi siapa pun yang mengikuti kejuaraan dengan serius.

Memahami bagaimana pedoman diterapkan dapat memberikan konteks berharga saat menganalisis akhir pekan berikutnya dan menyusun prediksi Grand Prix secara lebih akurat.

Share this post

Related posts